Beranda | Artikel
Mengatasi Ketakutan Anak terhadap Cerita Horor
20 jam lalu

Mengatasi Ketakutan Anak terhadap Cerita Horor merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 16 Jumadil Awal 1448 H / 27 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Mengatasi Ketakutan Anak terhadap Cerita Horor

1. Menanamkan Iman kepada Allah

Untuk mengatasi masalah tersebut, langkah pertama adalah mendidik anak sejak kecil dengan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beribadah, serta berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di setiap waktu. Dengan demikian, rasa takut anak hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini merupakan salah satu proses dalam menuntut ilmu, karena ilmu pada dasarnya adalah khasyatullah, yaitu rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa takut tersebut harus ditanamkan dan dipupuk sejak kecil seiring dengan perjalanan seseorang menuntut ilmu, sehingga buahnya adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak takut dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak takut celaan orang-orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah. Sifat tersebut tidak muncul begitu saja.

Lawan dari sifat takut adalah berani, dan keberanian perlu diasah serta dipupuk dari sejak kecil guna menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Sebagai gantinya, rasa takut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tereliminasi. Oleh karena itu, sejak kecil kita harus mengajarkan serta menanamkan hubungan yang erat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati anak diikat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengenal pencipta dan Rabb-nya. Perkara ini merupakan hal yang paling mendasar dalam hidup manusia karena setiap manusia lahir di atas fitrahnya. Secara fitrah, manusia mengenali penciptanya dan lahir di atas kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Namun, lingkungan dan kedua orang tualah yang membuat anak tersebut keluar dari fitrahnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Kedua orang tuanyalah yang membuat anak ini menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).

2. Memberikan Kebebasan Bertindak

Langkah kedua adalah memberikan kebebasan bertindak pada anak. Mereka masih berada dalam tahap latihan, sehingga tidak perlu takut jika anak berbuat salah. Anak pasti melakukan kesalahan, misalnya ketika diberikan suatu tugas. Orang tua tidak perlu terlalu heboh ketika anak berbuat salah karena mereka sedang dalam proses belajar. Hal tersebut merupakan bagian dari sunatullah, di mana manusia jatuh dalam kesalahan supaya mereka belajar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, sebab tugas manusia adalah belajar sampai mati. Orang yang tidak mau belajar sepanjang hidupnya akan berada dalam kerugian. Oleh karena itu, berikan kebebasan dalam bertindak, tetapi di samping itu tidak boleh dilepaskan begitu saja.

Orang tua perlu menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak agar mereka belajar bertanggung jawab, terutama bagi anak laki-laki. Harga diri seorang laki-laki terletak pada tanggung jawabnya, dan tidak ada harga diri bagi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut laki-laki sebagai qawwam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An-Nisa`[4]: 34).

Nilai tertinggi pada seorang laki-laki adalah dari tanggung jawabnya; semakin bertanggung jawab dia, semakin tinggi pula nilainya di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun di mata manusia. Oleh karena itu, bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki, sisi ini harus ditekankan karena mereka bakal menjadi seorang pemimpin. Dari rasa tanggung jawab inilah muncul sifat berani, yaitu berani mengambil keputusan dan berani mengambil risiko, karena setiap keputusan pasti memiliki risiko. Laki-laki yang tidak mempunyai kemampuan tersebut dapat dikatakan sebagai orang yang pengecut dan penakut.

Sementara itu, wanita tidak dibebankan untuk menjadi seorang qawwam. Qawwam di sini dapat diartikan sebagai penanggung jawab kaum wanita. Bagi yang memiliki anak laki-laki, poin penting yang harus ditekankan adalah keberanian untuk bertanggung jawab, bukan menjadi orang yang pengecut, penakut, serta tidak berani mengambil risiko. Hal ini harus dilatih sejak kecil. Sebagian orang tua terkadang terlalu memanjakan anak sehingga anak tidak diberikan tugas sama sekali. Akibatnya, anak tersebut tidak mengerti cara bekerja, tidak tahu apa yang harus dilakukan, serta tidak mengerti arti tanggung jawab karena tidak pernah mengemban tugas.

Memanjakan anak secara berlebihan adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal, terlebih jika hal tersebut dilakukan pada anak laki-laki. Meskipun memanjakan anak perempuan juga bukanlah hal yang sepenuhnya benar. Maka anak laki-laki maupun perempuan sama-sama tidak boleh dimanjakan secara berlebihan, dan dampaknya akan jauh lebih buruk jika terjadi pada anak laki-laki.

Orang tua sering kali merasa tidak tega dan khawatir berlebihan (overthinking) serta terlalu melindungi (overprotection) anak. Mereka khawatir anak akan merasa kesulitan, sehingga anak justru dikekang dalam arti yang negatif, seperti tidak diizinkan keluar rumah atau dilarang bergaul dengan alasan lingkungan yang tidak baik. Seharusnya, tugas orang tua adalah mencarikan lingkungan yang baik bagi anak, bukan mengurung mereka di dalam rumah. Sebagian orang tua juga merasa tidak tega memberikan tugas dan tanggung jawab kepada anak dengan alasan sayang dan tidak ingin menyusahkan mereka. Bentuk kasih sayang seperti ini merupakan kesalahan yang salah kaprah. Anak-anak diberikan tugas sebagai bentuk latihan, di mana orang tua perlu mendampingi serta menganalisis cara mereka melakukan tugas tersebut, sehingga pada akhirnya akan muncul sifat berani pada diri anak.

3. Jangan Menakuti-Nakuti Anak

Langkah berikutnya adalah orang tua tidak boleh menakut-nakuti anak dengan mitos atau hal-hal yang tidak benar, seperti hantu, kegelapan, atau jin. Memang benar terdapat makhluk-makhluk ghaib di sekitar kita yang tidak tampak, dan mereka bisa saja menakut-nakuti manusia, tetapi orang tua harus menanamkan keberanian pada anak, bukan rasa takut. Sebagian orang tua terkadang menakut-nakuti anak agar mereka menjadi nurut, seperti melarang keluar rumah atau pergi ke suatu tempat dengan alasan ada hantu atau jin. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Dampak negatif dari pola pengasuhan tersebut sangat buruk, di mana anak menjadi tidak berani sendirian, tidak berani di rumah seorang diri, serta tidak berani berada di tempat yang gelap. Banyak anak yang tidak berani tidur dalam kondisi lampu dimatikan dan menyukainya dalam keadaan terang, padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk mematikan lampu dan api. Selain boros, tidur dengan lampu menyala juga dapat mengganggu kualitas tidur seseorang, khususnya fase tidur nyenyak (deep sleep). Padahal, inti dari tidur adalah mendapatkan deep sleep, karena pada waktu tersebut tubuh melakukan detoksasi, organ-organ dalam bekerja memperbaiki diri, dan sel-sel tubuh mengalami regenerasi. Jika kualitas tidur tersebut tidak didapat, maka waktu tidur menjadi sia-sia dan tidak mendatangkan manfaat. Meskipun demikian, sebagian anak tetap tidak berani tidur dalam keadaan gelap akibat dari rasa takut yang telah tertanam sejak kecil.

Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mengatasi Ketakutan Anak terhadap Cerita Horor” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56676-mengatasi-ketakutan-anak-terhadap-cerita-horor/